DAUR HIDUP HEWAN

1) Daur Hidup Nyamuk

Jika nyamuk betina bertelur, telur nyamuk menetas menjadi jentik-jentik. Jentik-jentik berubah menjadi kepompong. Kepompong berubah bentuk menjadi nyamuk muda, dan kemudian menjadi nyamuk dewasa. Karena perubahan bentuknya mengalami tahap kepompong, maka nyamuk dikatakan mengalami metamorfosis sempurna.

daur hidup nyamuk

Pernahkah kamu memperhatikan saat nyamuk hinggap di dinding? Nyamuk ada yang hinggap menungging dan ada yang sejajar dengan dinding. Nyamuk yang hinggap menungging adalah nyamuk malaria. Jentik-jentik nyamuk malaria sejajar dengan permukaan air, sedangkan jentik-jentik nyamuk biasa menggantung di permukaan air.

perbedaan nyamukdaur-hidup-nyamuk.png

Gambar 4.2 Daur hidup nyamuk

2) Daur Hidup Kupu-kupu

Coba kamu perhatikan kupu-kupu yang hinggap di bunga! Ketika kupu-kupu dewasa bertelur, telurnya akan menetas menjadi larva yang berbentuk ulat, ulat menjadi kepompong dan kepompong kemudian berubah menjadi kupu-kupu dewasa. Seperti pada nyamuk, Kupu-kupu mengalami tahap kepompong sehingga dikatakan kupu-kupu melakukan metamorfosis sempurna.

kupu-kupukupu-kupu.png

Gambar 4.3 Daur hidup kupu-kupu

LOGO JAWA TIMUR

Logo-Propinsi-Jawa-Timur-transparent-background

Arti Lambang Jawa Timur

Daun lambang bentuk perisai, adalah lambang keamanan dan ketentraman serta kejujuran melambangkan dasar dan keinginan hidup rakyat Jawa Timur yang merupakan daerah termasuk aman;

Bintang dengan warna kuning emas adalah lambang Ketuhanan Yang Maha Esa, bersudut lima dan bersinar lima adalah melambangkan Pancasila merupakan dasar dan falsafah negara yang senantiasa dijunjung tinggi dan selalu menyinari jiwa rakyatnya (dalam hal ini rakyat Jawa Timur) khususnya jiwa Ketuhanan Yang Maha Esa;

Tugu Pahlawan, adalah lambang kepahlawanan, untuk melukiskan sifat dan semangat kepahlawanan rakyat Jawa Timur (khususnya Surabaya) dalam mempertahankan kedaulatan dan wilayah tanah airnya;

Gunung berapi, yang selalu mengepulkan asap melambangkan keteguhan dan kejayaan tekad Jawa Timur dengan semangat dinamis, revolusioner pantang mundur dalam menyelesaikan revolusi menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur, selain itu juga menggambarkan bahwa wilayah Jawa Timur mempunyai banyak gunung-gunung berapi;

Pintu gerbang (dari candi) dengan warna abu-abu, melambangkan cita-cita perjuangan serta keagungan khususnya Jawa Timur di masa silam yang masih nampak dan sebagai lambang batas perjuangan masa lampau dengan masa sekarang, yang semangatnya tetap berada di tiap-tiap patriot Indonesia yang berada di Jawa Timur;

Sawah dan ladang, yang dilukiskan pada bagian-bagian dengan warna kuning dan hijau, melambangkan kemakmuran yaitu bahwa Jawa Timur memiliki sawah-sawah dan ladang-ladang yang merupakan sumber dan alat untuk mencapai kemakmuran;

Padi dan kapas, lambang sandang pangan yang menjadi kebutuhan pokok rakyat sehari-hari, gambar padi berbutir 17 buah, sedangkan kapas tergambar 8 buah, melambangkan saat-saat keramat buat bangsa Indonesia yaitu tanggal 17-8-1945;

Sungai yang bergelombang menunjukkan bahwa Jawa Timur mempunyai banyak sungai, yang cukup mengalir untuk mengairi sawah-sawah dan sumber-sumber kemakmuran lainnya di Jawa Timur;

Roda dan rantai, melukiskan situasi Jawa Timur pada masa sekarang yang sudah mulai pesat pembangunan pabrik-pabrik dan lain-lain dalam rangkah pembangunan Jawa Timur di bidang industri, dan melambangkan pula tekad yang tak kunjung padam serta rasa ikatan persahabatan yang biasa ditunjukkan oleh rakyat Jawa Timur kepada pendatang/peninjau dari manapun;

Pita berisikan tulisan Jawa Timur, menunjukkan sebagai lambang daerah Propinsi Jawa Timur;

Pita dasar dengan warna putih berisi tulisan JER BASUKI MAWA BEYA, menunjukkan motto Jawa Timur yang mengandung makna bahwa untuk mencapai suatu kebahagiaan diperlukan pengorbanan.

Ki Hajar Dewantara

Biografi Pahlawan Pendidikan Ki Hajar DewantaraKi Hajar Dewantara memiliki nama asli R.M. Suwardi Suryaningrat. Beliau berasal dan keluarga keturunan Keraton Yogyakarta. Beliau mengganti namanya tanpa gelar bangsawan agar dapat lebih dekat dengan rakyat. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau belajar di STOVIA, tetapi tidak menamatkannya karena sakit. BeIiau kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain De Express, Utusan Hindia,dan Kaum Muda. Sebagai penulis yang handal, tulisannya mampu membangkitkan semangat antikolonialisme rakyat Indonesia.

Ki Hajar Dewantara juga aktif di bidang politik dengan bergabung ke dalam Budi Utomo, lalu mendirikan Indische Partij sebagai partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia pada tanggai 25 Desember 1912 bersama kedua rekannya, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo . Ki Hajar Dewantara juga ikut membidani terbentuknya Komite Bumiputra di tahun 1913 sebagai bentuk protes terhadap rencana Belanda memeringati kemerdekaannyaa dan Perancis. Beliau kemudian membuat sebuah tulisan pedas di harian De Express yang berjudui “Als lk een Nederlander” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Melalui tulisan ini, beliau menyindir Belanda yang hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannyaa dan Perancis di negeri jajahan dengan menggunakan uang rakyat indonesia. Berikut ini kutipannya.

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh Si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu ! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”

Akibatnya, Belanda pun langsung menjatuhkan hukuman pengasingan. Bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesomo, beliau dibuang ke Belanda. Di Belanda, Ki Hajar Dewantara memanfaatkan kesempatan mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Setelah kembali ke tanah air, Ki Hajar Dewantara memusatkan perjuangan melalui pendidikan dengan mendirikan perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 JuIi 1922. Perguruan ini merupakan wadah untuk menanamkan rasa kebangsaaan kepada anak didik. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya adalah di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Berkat jasanya yang besar di bidang pendidikan maka pemerintah menetapkan beliau sebagai Bapak Pendidikan dan tanggal lahirnya, 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Pada tahun 1957, beliau mendapat gelar Doctor Honoris Causa dan UniversitaS Gadjah Mada. Dua tahun setelah mendapat gelar tersebut, beliau meninggal dunia pada tanggat 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

  • Tempat/TgI. Lahir       :  Yogyakarta, 2 Mei 1889
  • Tempat/TgI. Wafat      :  Yogyakarta, 26 April 1959
  • SK Presiden                    :  Keppres No. 305 Tahun 1959, Tgl. 28 November 1959
  • Gelar                                   :  Pahlawan Nasional

Selain ajarannya di bidang pendidikan, Ki Hadjar juga meninggalkan pesan yang sangat balk diteladani. Pesan tersebut kini dapat dilihat pada Museum Sumpah Pemuda di JI. Kramat Raya, Jakarta. “Aku hanya orang biasa yang Bekerja untuk bangsa lndonesia dengan cara Indonesia. Namun, yang penting untuk kalian yakini, sesaat pun aku tak pernah mengkhianati tanah air dan bangsaku, lahir maupun batin aku tak pernah mengkorup kekayaan negara.

bed

<div id=”fb-root”></div><script>(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = “//connect.facebook.net/id_ID/sdk.js#xfbml=1&version=v2.0″; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));</script><div class=”fb-post” data-href=”https://www.facebook.com/caknurmokondo/posts/10203999082843049&#8243; data-width=”466″><div class=”fb-xfbml-parse-ignore”><a href=”https://www.facebook.com/caknurmokondo/posts/10203999082843049″>Kiriman</a&gt; oleh <a href=”https://www.facebook.com/caknurmokondo”>Cak Nur</a>.</div></div>

Pembunuhan

BIREUEN, KOMPAS.com — Kasus pembunuhan M Amin (35), warga Desa Teupok Tunong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Aceh, terungkap berdasarkan bukti telepon terakhir yang tertera di handphone atau ponsel korban.

Dari daftar itu, polisi menangkap Basri M Yusuf sebagai pelaku pembunuhan Amin di areal persawahan Desa Blang Dalam, Kecamatan Jeumpa, 15 Februari lalu.

Kasat Reskrim Polre Bireuen AKP Syamsul mengatakan, pelaku yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ditangkap pada Selasa (17/2/2015) siang. Hingga kini, dia masih dimintai keterangan.

Selain itu, polisi juga meminta keterangan istri Basri, Maryati, warga Desa Mon Jambe, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.

Syamsul menjelaskan, dari hasil penelusuran tim, pembunuhan itu berawal dari kecurigaan pelaku saat melihat istrinya pergi keluar rumah naik sepeda motor pada malam hari. Istrinya pergi setelah ditelepon seseorang.

”Lantas si pelaku menyusul dari belakang hingga melihat istrinya berhenti di ruas jalan dekat areal sawah di Desa Blang Dalam dan turun ke pematang sawah,” kata Syamsul.

Singkat cerita, pelaku mencari ke lokasi persawahan itu dan menemukan istrinya sedang berdiri dengan korban. Tanpa basa-basi, Basri langsung membunuh korban di lokasi.

”Saksi istri pelaku memang mengakui memiliki hubungan khusus dengan pelaku. Namun naas, malam itu dipergoki suaminya yang naik pitam,” tandasnya.

Kisah Si Tukang Gorengan

Kisah Si Tukang Gorengan

Alkisah ada seorang penjual gorengan yang selalu menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual. Dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering main di tempatnya mangkal.

Tanpa terasa, sudah lebih dari 20 tahun dia menjalani usahnya itu. Namun tidak ada perubahan yang berarti; usahanya tetap begitu2 saja.

Suatu hari, datang seorang pria membawa mobil mewah, lalu berhenti di depan gerobak gorengannya. Pria itu bertanya, “Ada gorengan buntut singkong, Pak?”

Si tukang gorengan lantas menjawab, “Nggak ada, Mas.”

“Saya kangen sama buntut singkongnya, Pak. Dulu waktu kecil, ketika ayah saya baru meninggal, tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman saya mengejek saya karena tidak bisa beli jajanan. Tapi waktu itu, Bapak selalu memberi buntut singkong goreng kepada saya, setiap kali saya main di dekat gerobak bapak,” ujar pria muda itu.

Tukang gorengan terperangah. “Yang saya berikan dulu kan cuma buntut singkong.. Kenapa kamu masih ingat saya?”

“Bapak tidak sekadar memberi buntut singkong, tapi juga sudah memberikan kebahagiaan dan harapan buat saya. Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Bapak. Tapi, saya ingin memberangkatkan Bapak ke Tanah Suci. Semoga Bapak bahagia,” lanjut pria itu.

Si tukang singkong goreng hampir tidak percaya. Hanya sebuah kebaikan/sedekah kecil tapi mendatangkan berkah yang begitu besar!

Selalu bersyukur & berbuat baik. Sekecil apa pun, asal ikhlas dan tulus, pasti akan membuahkan kebahagiaan dan keberkahan.

PEMUDA SHOLEH

Pemuda Shaleh beraroma Wangi Kesturi, Inilah Sebabnya

ilustrasi @caracol

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang pemuda sederhana nan sholeh juga rupawan. Dialah Abu bakar Al-Misk, pemuda yang dari dalam tubuhnya selalu mengeluarkan wangi bunga kesturi.

Karena wangi itulah suatu hari ia ditanya, “Sungguh, kami selalu mencium bau wangi yang keluar dari tubuhmu, apa penyebabnya?”

Ketika ada yang bertanya seperti itu, dia lantas berkata “Demi Allah, sudah bertahun-tahun aku tidak memakai minyak wangi.”

“Adapun yang menjadi sebab aroma wangi tubuhku,” lanjutnya menuturkan, “Suatu ketika ada seorang wanita mencoba memperdayaiku. Ia memasukkan aku ke dalam rumahnya, lalu mengunci setiap pintu-pintunya. Setelah semua pintu-pintu rumahnya terkunci, ia merayuku untuk berbuat keji bersamanya.”

“Aku pun bingung dan tertekan dengan tipu dayanya, tapi beruntunglah aku mendapat ide. Aku berpura-pura sakit perut dan meminta izin kepadanya untuk pergi ke belakang terlebih dahulu. Ia pun mengizinkannya.”

“Ketika aku masuk ke kamar kecil, aku ambil kotoran dengan tanganku, kemudian aku lumuri seluruh tubuhku. Tujuannya, agar pada saat si wanita itu melihatku, dia akan merasa jijik dan tak memiliki hasrat lagi padaku.”

“Selanjutnya aku pun kembali ke hadapan wanita itu dalam keadaan berlumur kotoran dengan bau busuk. Benar saja, ketika si wanita itu melihatku, ia kaget dan merasa sangat jijik.”

Karena hal itu pula, lanjutnya menuturkan, “Ia membukakan pintu dan mengusirku. Lalu aku pun pergi dan membersihkan diri. Keesokan harinya, ketika bangun dari tidur, aku menemukan bau harum yang berasal dari tubuhku. Dan bau harum itu tak mau pergi hingga kini.”

Masya Allah… Ternyata harum yang keluar dari tubuhnya, tak lain adalah buah dari ketaatannya kepada Allah Ta’ala. Karena ketaatan itulah yang membuat dirinya takut untuk bermaksiat dihadapan Allah Ta’ala, sehingga dia berusaha keras agar menjauh dari maksiat yang hampir saja menjerumuskannya pada dosa.

Lantas, bagaimana dengan kita bila berada di posisinya ? Mungkinkah kita akan melakukan hal yang sama ? Atau justru kita malah terhanyut dalam arus syahwat yang menggelora ?

Semoga, kisah ini mampu menggugah kembali kesadaran kita agar menjauhi perbuatan yang dapat menjerumuskan kita pada dosa zina, dan dosa-dosa lainnya. Wallahu a’lam bishshawwab. [Mustaqim Aziz]